Selasa, 21 Agustus 2012

Sesungguhnya Mereka Bersaudara


Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab mengeluarkan uang sebanyak 400 dinar. Kemudian ia mengutus seorang pemuda untuk mengantar uang itu kepada Abu Ubaidah. Umar berkata kepada pemuda itu, “Pergilah kepada Abu Ubaidah dan berikan uang ini kepadanya. Kemudian tunggulah beberapa saat sampai engkau melihat apa yang ia perbuat di rumahnya.”
Maka berangkatlah pemuda itu ke rumah Abu Ubaidah.
Sesampainya di rumah Abu Ubaidah, pemuda utusan Umar itu berkata, “Aku diutus oleh Amirul Mukminin untuk memberikan uang ini kepadamu.” Maka Abu Ubaidah berkata, “Shalawat dan rahmat Allah untuknya.” Lalu Abu Ubaidah memanggil budak perempuannya dan berkata, “Pergi dan berikanlah uang tujuh dinar kepada si Fulan dan lima dinar kepada si Anu!”
Lantas Abu Ubaidah membagi-bagikan uang itu sampai habis. Lalu pemuda itu kembali kepada Umar dan menceritakan apa yang telah dilihatnya. Kemudian Umar mengeluarkan lagi uang seperti tadi dan mengutus pemuda itu kepada Mu’adz bin Jabal.
Maka Mu’adz berkata, “Shalawat Allah untuknya.” Kemudian Mu’adz memanggil budak perempuannya dan berkata, “Pergilah ke rumah si Fulan dan berikanlah uang ini, kemudian berikanlah uang ini kepada si Anu!”
Tiba-tiba istri Mu’adz bin Jabal datang dan berkata,”Demi Allah! Kami ini orang miskin maka berilah kami.” Maka Mu’adz tidak menyisakan uangnya di dalam sobekan kain pembungkus uang itu kecuali dua dinar. Kemudian uang itu ia berikan kepada istrinya.
Pemuda utusan itu kemudian kembali kepada Umar. Ia menceritakan apa yang telah terjadi. Maka Umar bergembira dengan apa yang terjadi, lantas ia berkata, “Sesungguhnya mereka saling bersaudara satu sama lain.”  (Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hlm. 31)
SumberKisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Sabtu, 23 Juni 2012

Muslim Yang Gaul, Syar’i, dan Berprestasi

Di mata dunia, nilai-nilai Islam dianggap bertentangan dengan gaya hidup modern. Ketika para muda-mudi penganut ‘madzhab’ kehidupan modern bergaul tanpa batas, bebas tak berhijab (ikhtilat), Islam mengajarkan agar muda-mudinya saling menjaga diri.
Ketika semua orang berlomba-lomba berburu harta kekayaan dan kekuasaan sebagai simbolisasi atas kedigdayaan diri, Islam mengajarkan bahwa itu semua hanyalah tipu daya dunia.
Ketika paham sekularisme berhembus dan berhasil meyakinkan masyarakat bahwa antara perilaku beragama dan urusan dunia itu terpisah, Islam tetap kukuh dengan pandangan bahwa urusan dunia sangat erat kaitannya dengan perilaku beragama dan kehidupan akhirat.
Berawal dari anggapan semacam itu dunia memandang sinis muslim yang masih memegang teguh nilai-nilai Islam. Muslim yang hanif (lurus) ini dianggap kurang pergaulan (kuper), ketinggalan zaman, bakal teroris, dan berbagai anggapan miring lainnya.
Di sisi lain, muslim yang dituduh semacam itu tetap cuek, dan tak terpengaruh dengan apa kata dunia. Mereka tetap nyaman dengan identitas keislaman mereka. Bagi mereka, asalkan agama dan jiwa mereka terselamatkan dari fitnah dunia itu sudah cukup. Sehingga kebanyakan dari mereka memilih untuk ber-‘uzlah.
Secara bahasa, ‘uzlah berarti menghindar. Dalam praktiknya, ‘uzlah adalah seperti yang dilakukan oleh para Pemuda Kahfi untuk menghindari kezhaliman penguasa.
Orang yang melakukan ‘uzlah cenderung jarang bergaul dengan orang lain. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu sendiri, merenungi kehidupan, dan enggan berlama-lama bertemu manusia. Ketika bertemu manusia, mereka takut tidak bisa mengendalikan hawa nafsu dan pada akhirnya berbuat dosa. Jika dianalogikan dengan dunia kesehatan, ‘uzlah merupakan usaha preventif untuk menjaga diri agar tetap steril.
Sikap ini dilakukan ketika lingkungan sudah tidak kondusif dan banyak kemungkaran terjadi. Salah satu cara untuk menghindarinya adalah dengan ber-‘uzlah. Tujuannya agar selamat dari kefasikan yang mulai merajalela.
Nabi Ibrahim as. pernah berkata kepada kaumnya dalam rangka ‘uzlah;
“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, Mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS Maryam[19]:48)
Namun, ada konsekuensi yang harus diambil ketika seorang muslim –yang hidup di zaman- modern seperti saya dan Anda harus ber-‘uzlah. Kita pun dihadapkan pada dilema dua pilihan; ber-‘uzlah atau bergaul.
Kalau memilih ber-‘uzlah, kita akan dianggap kuper, atau dituduh eksklusif. Kemungkinan yang lebih buruk akan dianggap aneh, ekstrimis, teroris, dan fundamentalis.
Ketika memilih bergaul dengan dunia dan modernitasnya, ada konsekuensi lain yang harus kita ambil. Salah satunya adalah harus berhadapan langsung dengan hal-hal yang dilarang oleh syariat. Di kantor, di sekolah, di kampus, di pasar, di jalan, di dunia maya, akan kita temui kemaksiatan yang sudah dianggap sebagai hal yang wajar oleh masyarakat kita.
Antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram berbonceng mesra di atas motor, para pejabat dengan seenak udelnya mengambil uang rakyat, tayangan yang tidak mendidik disiarkan di televisi hampir 24 jam non-stop, dan godaan jejaring sosial bernama facebook dan twitter yang bisa menyita waktu kita hingga lupa berdzikir dan beribadah.
Telah banyak terjadi perdebatan antar ulama tentang kedua pilihan tersebut. Ada yang menyebutkan bahwa ber-‘uzlah lebih baik, ada juga yang menegaskan bahwa bergaul lebih baik. Manakah yang benar?
Ternyata pendapat yang lebih mendekati sunnah adalah memilih keduanya. Kita tidak mungkin mengambil salah satunya saja tanpa mengindahkan yang lain. Keduanya sama-sama penting sebagai bekal untuk menjalani hidup. Generasi awal Islam yang notabene di-tarbiyah langsung oleh Rasulullah saw. sampai dijuluki sebagai ‘rahib di malam hari dan penunggang kuda di siang hari’.
Malam harinya mereka ber-‘uzlah dari kehidupan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah Rabbul ‘alamin. Sedangkan siang harinya mereka melepaskan tali-tali kuda yang ditambat untuk menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Sesuai dengan ajaran Islam, dalam diri seorang muslim ada kewajiban individu (shalat, zakat, puasa, dll), serta kewajiban sosial (bermuamalah). Sehingga tidak ada alasan karena sibuk dengan kewajiban pertama, sehingga kewajiban kedua terlupakan. Pun sebaliknya.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash[28]:77)
‘Uzlah merupakan sarana bagi kita untuk tetap menjaga hubungan dengan Allah swt. Dengan mendatangi majelis ta’lim kita telah ber-‘uzlah, dengan membaca Al-Qur’an kita telah ber-‘uzlah, dengan merenungi kehidupan kita juga telah ber-‘uzlah. Namun tidak boleh berhenti sampai ‘uzlah saja, seorang muslim juga dituntut untuk gaul.
Rasulullah saw. bersabda:
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar menghadapi gangguan mereka itu lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka.” (HR Ibnu Majah dishahihkan oleh Al-Albani)
Gaul di sini tidak hanya bermakna berhubungan dengan orang lain saja. Lebih luas lagi, ia menuntut seorang muslim mengetahui realitas yang terjadi di lingkungan, keluarga, negeri, bahkan dunia ini.
Kini, kita tidak mungkin bisa terlepas berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Jika kita tidak segera sadar dengan kondisi yang ada, bisa saja kita terperangkap jerat-jerat setan manusia dan para musuh Islam. Dari sana bisa ditarik kesimpulan awal, bahwa muslim pun juga harus gaul.

Kisah Inspirasi: Separuh Porsi Es Krim

” Jangan pernah meremehkan orang lain, bisa jadi rejeki Anda mengalir darinya.”
Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan.
Sahabat, ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, Anda tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga..

Berhentilah Mengeluh Sahabatku

Sahabat, pantaskah anda mengeluh? Padahal anda telah dikaruniai sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Layakkah anda berkeluh kesah? Padahal anda telah dianugerahi kecerdasan yang memungkinkan anda untuk membenahi segala sesuatunya.
Apakah anda bermaksud untuk menyia-nyiakan semuanya itu? lantas menyingkirkan beban dan tanggung jawab anda? Janganlah kekuatan yang ada pada diri anda, terjungkal karena anda berkeluh kesah. Ayo tegarkan hati anda. Tegakkan bahu. Jangan biarkan semangat hilang hanya karena anda tidak tahu jawaban dari masalah anda tersebut.
Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan kamu. Ambillah sebuah nafas dalam-dalam. Tenangkan semua alam raya yang ada dalam benak anda. Lalu temukan lagi secercah cahaya dibalik awan mendung. Dan mulailah ambil langkah baru.
Sesungguhnya, ada orang yang lebih berhak mengeluh dibanding anda. Sayangnya suara mereka parau tak terdengar, karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Beban kehidupan yang berat lebih suka mereka jalani daripada mereka sesali. Jika demikian masihkan anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup ini?
Mungkin dengan gambar gambar berikut ini bisa membuat sahabat  lebih bersemangat dalam mengarungi hidup ini tanpa merasa kekurangan.
Jika kamu merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??
http://anehdidunia.blogspot.com
Bila Anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??
http://anehdidunia.blogspot.com
Jika Kamu merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..
http://anehdidunia.blogspot.com
Jika kamu sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini!
http://anehdidunia.blogspot.com
Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal?
http://anehdidunia.blogspot.com
Jika Kamu merasa hidup Kamu sangat menderita, apakah Kamu juga merasakan penderitaan seperti orang ini??

http://anehdidunia.blogspot.com
Jika Kamu merasa hidup Kamu tidak adil, bagaimana dengan dia??
http://anehdidunia.blogspot.com
Di saat kita kecil dimanja dan disayang, manjakah mereka??

http://anehdidunia.blogspot.com
Tidakah merasa bersalah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?
http://anehdidunia.blogspot.com
Berjanjilah pada diri sendiri, lalu lakukan. Talk less do More! terima kasih udah lihat postingan ini.. sebarkan lewat share box dibawah jika dirasa ini penting untuk dishare ke orang-orang yang kalian sayangi.

http://motivatorsuper.com/berhentilah-mengeluh/5667

Jangan Katakan Letih Pada Ibu


JANGAN PERNAH KITA MENGATAKAN LETIH PADA IBU.??
kita belum pernah merasakan seletih apa yang ibu rasakan untuk kita
lihatlah, wajah dulu yang lembut sekarang sudah keriput ditelan usia.
tubuh yang dulu tegap sekarang sudah bungkuk karena memikul beban.kita memang sering lupa dan tidak pernah mau tahu betapa IBU SANGAT MENCINTAI KITA.
kembali kepada kita,apa yang telah kita perbuat untuk ibu..??
dalam hal apa kita tlah berdosa pada ibu..??
dan apa yang belum kita sempurnakan untuk ibu..??
semoga kita tidak pernah lupa, bahwa ibu adalah sesosok perempuan yang kuat…
ibu, ibu dan ibu…….


Bagi Ibu Kesehatan Kita Lebih Penting

Ibu tidak memperhatikan keselamatanya sendiri demi kita

Ada Cerita Tentang Pengorbanan Ibu pada anaknya yang sangat menyayat hati. mungkin kisah dibawah udah pernah diposting dimari. ane cuma ingin berbagi dan menegaskan bahwa sekuat apapun kita ibu kita jauh lebih kuat!!
Berikut Kisahnya:
Jika kamu selamat, ingatlah, Ibu mencintaimu

Ini adalah satu dari… sekian banyak kisah nyata tentang pengorbanan seorang Ibu, cerita ini terjadi di Jepang beberapa waktu lalu, ketika gempa bumi dan terjangan tsunami meluluhlantakkan negara tersebut.
Ketika gempa bumi sudah mereda, ketika tim SAR telah mencapai puing-puing bangunan rumah ibu muda tersebut, mereka melihat sesosok tubuh seorang perempuan diantara puing-puing tersebut, tetapi posisi tubuhnya sangat aneh. Dia bersimpuh layaknya orang bersujud, tubuhnya condong ke depan dan kedua tangannya seperti disangga oleh sebuah benda. Rumah yang rubuh itu telah menimpa kepala dan juga punggungnya.
Dengan penuh kesulitan, kepala tim SAR meletakkan tangannya melalui celah kecil dinding untuk menggapai tubuh wanita tersebut. Dia berharap wanita tersebut masih hidup. Tapi tubuh yang telah dingin serta kaku tersebut mematahkan keyakinannya. Dia telah meninggal.
Dia, dan juga timnya yang lain, meninggalkan rumah tersebut dan akan mencari korban dari puing-puing bangunan yang lain, tetapi karena beberapa alasan dan dorongan batin entah dari mana, ketua tim SAR tersebut tergerak untuk kembali menelusuri sisa rumah wanita tersebut. Lagi-lagi, dia berlutut dan meletakkan tangannya di ruangan kecil dibawah mayat wanita malang tersebut, tiba-tiba dia berteriak kegirangan.
“Ada anak! Lihat! Ada anak dibawah sini!”. Keseluruhan tim SAR bergegas membantu, dengan hati-hati mereka membersihkan puing-puing disekitar wanita tersebut, ada seorang bayi (yang kurang lebih berumur 3 bulan) terbungkus disebuah selimut bermotif bunga-bunga dibawah mayat ibu tersebut. Tentu saja, wanita tersebut telah melakukan pengorbanan luar biasa untuk menyelamatkan anaknya. Bayi mungil tersebut masih tertidur ketika ditemukan ketika ketua tim SAR menemukannya.
Tim medis segera memeriksa bayi tersebut, setelah mereka membuka lembaran selimut tersebut mereka melihat sebuah handphone didalamnya, terdapat sebuah pesan teks yang ada di layarnya yang berbunyi, “Jika kamu selamat, ingatlah, Ibu mencintaimu.”
Handphone tersebut beredar dari satu orang ke yang lainnya, semua yang membaca pesan tersebut bersimpuh dan menitikkan air matanya, “Jika kamu selamat, ingatlah, Ibu mencintaimu.” Sebegitu besarnya cinta seorang ibu kepada anaknya!

 http://motivatorsuper.com/jangan-katakan-letih-pada-ibu/5135

Rabu, 20 Juni 2012

Kisah Taubat Pengikut Nabi Musa AS

Pada zaman Nabi Musa AS, Bani Israel ditimpa musim kemarau yang berpanjangan.  Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi mereka. Mereka berkata, “Ya Kalimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami”. Maka berangkatlah Musa A.S. bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan penuh
debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak.. wansyur ‘alaina rahmatak.. warhamnaa bil  athfaal ar rudhdha’.. wal bahaaim ar rutta’.. wal masyaayikh ar rukka’..” Setelah itu langit tetap saja terang benderang, matahari pun bersinar makin menyilau (maksudnya segumpal awan pun tak jua muncul). Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Ilaahi.. asqinaa”..

Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kamu sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Kerana dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kamu”.

Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, kerana engkaulah hujan tak  turun”. Seorang lelaki menjeling ke kanan dan kiri, maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, saat itu pula ia sedar kalau dirinya yang dimaksudkan.

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahsiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun”. Maka hatinya pun gundah-gulana, air matanya pun menitis, menyesali perbuatan maksiatnya sambil berkata , “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadaMu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepadaMu, maka terimalah taubatku”.

Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun muncul, semakin lama semakin tebal menghitam, dan akhirnya turunlah hujan. Musa pun kehairanan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia”. Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kamu oleh sebab hamba yang kerananya hujan tak turun telah bertaubat kepadaKu”.

Musa berkata, “Ya Allah, tunjukkan padaku hamba yang taat itu”. Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka aibnya sewaktu dia masih bermaksiat kepadaKu, apakah Aku perlu membuka aibnya sedangkan dia taat kepadaKu?”

http://naufalaflah.speedytaqwa.com/post/detail/1380/kisah-allah-tutup-aib-pengikut-nabi-musa-as-yang-berdosa

Rabu, 06 Juni 2012

Ruh Seorang Mukmin

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang ruh orang mukmin yang akan meninggal dunia dan ruh orang kafir yang akan meninggal dunia.
Jika seorang mukmin akan meninggal, malaikat-malaikat turun dari langit kepadanya dengan membawa kain kafan dari surga serta membawa wewangian dari surga. Lantas para malaikat itu duduk di sekeliling orang mukmin yang akan meninggal tadi.
Para malaikat duduk mengelilingi sang mukmin sepanjang mata memandang (saking banyaknya malaikat itu). Menyusul kemudian, datanglah Malaikat Maut duduk di dekat kepala sanga mukmin. Malaikat Maut berkata, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”
Dengan demikian, keluarlah jiwa sang mukmin dari jasadnya bagaikan keluarnya tetesan air dari bibir tempat air.
Kemudian Malaikat Maut mengambilnya. Jika Malaikat Maut telah mengambil ruhnya maka para malaikat lainnya tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat Maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya.
Lalu mereka meletakkannya ke dalam kafan dan wewangian itu. Ruh itu keluar dengan aroma yang harum seperti minyak misik yang paling wangi di muka bumi. Mereka membawanya naik ke atas. Setiap kali mereka melewati para malaikat, mereka ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?”
Para malaikat yang membawa ruh itu menjawab, “Ini ruh Fulan bin Fulan,” dengan nama panggilan terbaiknya semasa dahulu di dunia.
Hingga mereka sampai ke langit. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, maka dibukakanlah bagi mereka lalu diiringi oleh para malaikat dari seluruh penjuru langit hingga ke langit selanjutnya, sampai akhirnya ke langit yang ketujuh.
Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah catatan amal hamba-Ku di ‘Illiyyin, serta kembalikan ia ke bumi; karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka (manusia) dari bumi (tanah), kepadanya juga akan Kukembalikan, dan dari sana akan Kukeluarkan mereka pada waktu yang lain.”
Kemudian ruh orang tersebut dikembalikann lagi ke jasadnya (di bumi). Lalu datang kepadanya dua malaikat.
Kedua malaikat itu mendudukkannya seraya berkata, “Siapakah Rabbmu?”
Orang itu pun menjawab, “Rabbku adalah Allah ‘Azza wa Jalla.”
Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”
“Agamaku Islam,” jawabnya.
“Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kalian?” tanya dua malaikat itu lagi.
“Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya.
Dua malaikat itu berkata, “Darimana kamu tahu?”
Aku membaca kitab Allah ‘Azza wa Jalla kemudian aku mengimaninya dan membenarkannya,” jawabnya.
Lalu terdengarlah seruan dari atas langit, “Hamba-Ku itu benar. Karenanya, hamparkanlah baginya hamparan dari surga, pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah satu pintu menuju surga baginya.”
Maka terciumlah olehnya angin surga dan aroma wanginya, serta diluaskanlah kuburnya seluas mata memandang. Lalu ia didatangi oleh seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya. Lelaki itu berkata, “Bergembiralah dengan segala hal yang menyenangkanmu! Ini adalah hari  yang dahulu dijanjikan kepadamu.”
Kemudian mayat orang mukmin itu berkata, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebajikan.”
“Aku adalah amal shalihmu.”
Lalu mayat orang itu berkata, “Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat …. Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat, sehingga aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.” (Al-Jawabul Al-Kafi)
*
Hikmah di balik kisah ini:
  • Adanya azab kubur dan adanya nikmat kubur.
  • Adanya azab kubur maupun nikmat kubur dialami oleh ruh dan jasad orang yang meninggal.
  • Orang mukmin meninggal dengan cara yang mudah. Orang kafir meninggal dengan cara yang sulit dan menyakitkan.
  • Langit terdiri atas tujuh lapis; masing-masing lapisannya memiliki pintu yang dijaga oleh para malaikat.
  • Allah berada di atas langit.
  • Malaikat berjumlah sangat banyak; hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti.
  • Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa.
  • Ada dua malaikat yang bertugas menanyakan tiga perkara di alam kubur, yaitu Malaikat Al-Munkar dan Malaikat An-Nakir.
  • Di alam kubur, orang mukmin akan ditemani oleh amal shalihnya yang berbentuk seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
  • Orang kafir di alam kubur akan ditemani oleh amal jeleknya yang berbentuk lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk.
***
muslimah.or.id
Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.